Jurnaluleerubek | Banda Aceh | Balai Besar Badan Pengawas Obat dan Makanan mengadakan acara Forum Grup Diskusi (FGD) keamanan pangan di Kantor Gubernur aula serbaguna Sekda Aceh pada Selasa 15 November 2022.
Pada rangkaian acara tersebut di hadiri oleh Geusyik Ulee Rubek Timu Kec. Seunuddon Kabupaten Aceh Utara, Kepala Kementrian Agama Aceh, Kadis Kesehatan Kota Banda Aceh, Kadis Kesehatan Aceh Besar, Kadis Kesehatan Kota Sabang, Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Bireun, Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tamiang.
BPOM di Banda Aceh juga mengundang Kadis Desperindag Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Kepala Desperindag Kab.Bireun, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tamiang.
Acara Juga turut di hadiri oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Aceh, Kadis Pangan Aceh, Ketua MPU Aceh, Kepala Satpol PP Aceh, Kepala Kepolisian Resort Banda Aceh, Kepala Kepolisian Sektor Ulee Kareng, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Aceh, Ketua Dharma Wanita Balai Besar POM di Banda Aceh, Wartawan TVRI, Wartawan PJID, Fasilitator Pangan Aman Kabupaten Aceh Jaya, dan Para Produsen Kerupuk di Kabupaten Aceh.
Kepala Badan Besar POM Yudi Noviandi juga mengundang tamu secara Daring melalui Meeting Zoom di antaranya Kadis Pemberdayaan Masyarakat Gampong Kota Sabang, Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Kabupaten Bireun, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tamiang, Camat Kec. Ulee Kareng, Camat Kec. Ingin Jaya Kab. Aceh Jaya, Camat Kec. Seunagan Timur Kabupaten Nagan Raya, Camat Kec.Meurbo Kab. Aceh Barat, dan Produsen Kerupuk se-Aceh.
Dalam paparannya kepala BBPOM Yudi Noviandi menyatakan keamanan pangan di sepanjang rantai pangan merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat.
Kepala BBPOM di Banda Aceh juga mengutarakan bahwa terwujudnya keamanan pangan dapat mendukung peningkatan kesehatan masyarakat salah satunya dengan pemberdayaan dan Fasilitasi keamanan pangan sehingga resiko masyarakat terkena penyakit akibat konsumsi pangan tercemar dan tidak aman dapat di minimalisir.
Beliau pun menegaskan meninjaklanjuti hasil pengawasan kerupuk, masih banyak di temukan produsen kerupuk yang masih menggunakan bahan berbahaya (Boraks) dalam pembuatannya sehingga perlu di lakukan pembinaan dan penggalangan komitmen dari pelaku usaha pangan dalam memproduksi pangan yang aman.
(Muhazir)